Di Jawa Jadi Tukang Becak, Kembali ke Papua Jadi Pengusaha

OTTO Mayor, awalnya merupakan pelari asal Kabupaten Manokwari Provinsi Papua (Irian Jaya), yang pernah diminta belajar dan berlatih di Pulau Jawa tahun 1980-an. Dia kemudian menetap di Kota Salatiga, dan menikah dengan perempuan asal Salatiga. Seiring dengan waktu, ketika tidak ada pekerjaan tetap, Otto menjadi tukang becak yang kerap mangkal di sekitar Jalan Jenderal Sudirman. Otto juga pernah menjadi koresponden Radio Rasika FM untuk wilayah Kota Salatiga sekitar akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000. Liputannya sebagai reporter pemantau arus lalu lintas dan keramaian di Salatiga. Suaranya yang khas berdialek Papua, menjadikan Otto mudah diingat. Perawakannya yang berkumis tebal, memang terlihat garang, tetapi hatinya ternyata lembut.
Setelah tidak menjadi koresponden radio, yang kabarnya akibat warung telepon (wartel) mulai tutup, membuat Otto fokus menjadi tukang becak. Pria empat anak ini pun kemudian dikenal dengan aksi spontanitasnya memprotes kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Dia kerap demo tunggl protes kebijakan pemerintah atau Pemkot Salatiga yang tidak prorakyat. Demo tunggal yang dilakukannya cukup unik, yakni membawa karton bertuliskan protes kebijakan tersebut, sambil berlari mengelilingi Kota Salatiga, dan berakhir di komplek DPRD atau balai kota. Pernah dia berlari demo tunggal sambil mengenakan pakaian adat Papua. Dia juga pernah berlari Salatiga-Semarang dan Salatiga-Jakarta, dalam demo tunggalnya.
Sementara itu, beban hidupnya menafkahi istri dan anak-anaknya semakin berat. Sekitar tahun 2010, Otto memutuskan mengajak anak dan istrinya ke Kabupaten Manokwari, Papua. Saat pulang kampung ke Salatiga, baru-baru ini, Otto datang dan menceritakan bagaimana kehidupannya lebih baik di Papua. Istrinya yang sebelumnya hanya berjualan sayur di Salatiga, telah membuka warung makan dengan menu khas jawa. Menurut Otto, warung makan istrinya dengan berbagai macam menu laris, dengan pelanggan warga Jawa yang bermukim di Manokwari. ”Sehari kami bisa habis satu karung beras,” kata Otto. Tidak ada waktu untuk istirahat karena bisnis mereka lancar. Bahkan saat pulang ke Jawa masih dicari pelanggan.
Otto yang mencoba menjadi guru olahraga dengan bayaran Rp 250 ribu/bulan di sebuah SD di Manokwari, memilih ke luar dan menjadi tukang ojek sepeda motor. Dia bercerita sudah memiliki 4 sepeda motor. Pendapatan setiap operasional sepeda motor untuk ojek dengan mempekerjakan orang lain, bisa sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta setiap bulan. Otto waktu pulang kembali ke Manokwari mengajak saudara istrinya, untuk diajak berdagang di Papua. Hidup Otto….! Ternyata anda lebih berhasil menjadi pengusaha di tanah kelahiranmu. Kita tunggu kabarmu lagi. (Surya Yuli P-)

Otto Mayor mengenang masa-masa waktu menjadi tukang becak di Kota Salatiga
Otto Mayor mengenang masa-masa waktu menjadi tukang becak di Kota Salatiga
Iklan

2 pemikiran pada “Di Jawa Jadi Tukang Becak, Kembali ke Papua Jadi Pengusaha

  1. Pace Otto Mayor luar biasa. Semoga usahanya akan menjadi inspirasi bagi orang asli papua (oap) lain. Salut buat Pace Otto, dia kini “Tra Kosong”. Di Tanah Papua yang saya lihat hingga kini oap yang bergerak di sektor riil masih bisa dihitung jari. Ironis, sektor ekonomi masih didominasi pendatang, jika ini dibiarkan cepat atau lambat akan menumbuhkan kecemburuan sosial. Ini tugas pemerintah daerah, agar bisa mendiorong oap mau membuka lapangan kerja bagi diri maupun untuk orang lain dengan menjadi pedagang atau pengusaha. Ade Surya Yuli Sulatio, terima kasih tulisannya. Oh ya, Manokwari, adalah ibukota Provinsi Papua Barat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s