Pelestari Jip Willys, Meski Tua Tetap Keren di Jalanan

pernah dikorankan
Dikorankan
Hibur keluarga
Hibur keluarga

 

Setelah Konvoi Willys
Setelah Konvoi Willys

 

MENGENDARAI mobil kuno jenis Jip Willys buatan tahun 1944 hingga tahun 1950-an, merupakan sensasi tersendiri bagi pemiliknya, apalagi bersama-sama dalam sebuah konvoi.

Meski mobil tua tetapi terlihat keren dan menjadi pusat perhatian ketika melaju di jalan. Kata orang kebanyakan untuk gaya-gayaan, tetapi sebenarnya justru keberadaan komunitas pemilik Jip Willys adalah pelestari sejarah. Bagaimana tidak? Seharusnya mobil yang diciptakan semasa Perang Dunia II itu, sudah dimuseumkan karena sulit mencari onderdilnya.

Para pemiliknya pun harus berpikir kreatif mencari suku cadang, bahkan melakukan kanibal dengan kendaraan lainnya, agar bisa melintas di jalan raya.

Beberapa pemilik jip Willys yang paham otomotif, ada yang membuat sendiri suku cadangnya. Sejumlah pemilik pun harus merelakan mencari dan membeli mesin mobil keluaran baru, untuk dipasang dan disesuaikan dengan sistem penggerak pada Jip Willys. Sementara mesin asli, hanya dipakai ketika akan memperpajang suratsurat kendaraan.

Namun masih ada pula beberapa pemilik Willys yang mempertahankan orisinalitas mesin. Meskipun ketika melintas di jalan kerap mogok tanpa diketahui sebabnya, karena faktor usia. Di Kota Salatiga pemilik Jip Willys berada di bawah perkumpulan yang dinamakan Komunitas Jip Salatiga (KJS).

Anggotanya adalah pemilik bermacam-macam jip, termasuk jip keluaran terbaru buatan Jepang. Khusus pemilik Jip Willys, kebanyakan karena memiliki kenangan tersendiri. Sebagai contoh karena orang tua pemilik dari kalangan militer yang di era 1960- 1970-an sudah akrab dengan Willys, karena saat itu masih dipakai Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Stir Kiri

Sensasi lain yang dirasakan pemilik Willys adalah, keasyikan mengendarai mobil dengan stir yang berada di sebelah kiri. Sebab di Amerika sebagai produsen Jip Willys, kendaraan melaju di jalur kanan, sehingga stir berada di kiri.

Bagi sebagian orang yang biasa nyetir kendaraan di kanan, akan terasa canggung mengendarai Willys. ”Saya kenal Willys sejak remaja, ketika paman saya menggunakan kendaraan itu melewati sungai. Sejak saat itu saya pingin punya Jip Willys.

Jadi klangenan,” ujar Nanang Suswantoro (50), warga Kecamatan Tengaran. Pemilik 5 unit Willys itu mengaku mengoleksi kendaraan itu sejak 15 tahun lalu. Kebanyakan Willys yang didapatnya merupakan kendaraan yang sudah tidak bisa jalan (ndongkrok) dan perlu perbaikan agar bisa berfungsi lagi.

Purwo (40) warga Kecamatan Sidomukti, mengaku tertarik dengan Willys karena orang tua dan kakeknya berlatar belakang militer dan paham betul dengan kendaraan tersebut. Diakuinya sulit mencari mobil itu, karena biasanya pemiliknya tidak akan menjual.

Pemilik Willys paham memperbaiki sendiri kerusakan ringan. Bila rusak berat baru diserahkan ke bengkel. Hampir setiap pekan, pemilik mobil itu berkumpul dan bertukar pikiran tentang apa saja. Mulai dari kondisi mesin, membicarakan aksesori Willys yang harus dilengkapi, serta lainnya.

Setiap tahun selalu ada saja pertemuan pemilik Willys se-Jawa. Tahun lalu pertemuan di Solo, yang diikuti ratusan pemilik Willys di Pulau Jawa. Keakraban dan persaudaraan menjadi tema pertemuan tersebut. (Surya Yuli P)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s